Artikel
Pak Kadri Jagoan Watermarking PDF Print E-mail
User Rating: / 6
PoorBest 

Beberapa tahun yang lalu saya diminta seorang mahasiswa S1 untuk menjadi moderator seminar skripsi. Topik penelitiannya tentang watermaking. Seminar tersebut menyedot perhatian cukup banyak mahasiswa. Saya kira mahasiswa ini cukup berhasil menyajikan hasil penelitian tersebut. Apalagi gayanya yang khas membuat suasana seminar jadi semarak karena banyak yang terpingkal-pingkal. Termasuk saya. Pengetahuan dan wawasan mahasiswa ini juga bagus. Disertai contoh-contoh, dia menjelaskan definisi watermaking dengan baik.

Menurut dia watermaking adalah suatu teknik yang mengijinkan seseorang individu untuk menambahkan catatan hak cipta yang tersembunyi atau pesan verifikasi lain ke dalam dokumen-dokumen, sinyal-sinyal audio, atau citra. Kita dapat membuat watermark ini visible atau invisible. Pada visible watermark, pesan verifikasi atau hak cipta tersebut dapat terlihat oleh indera manusia. Sebaliknya pada invisible watermark, untuk melihatnya tidak cukup hanya mengandalkan indera, melainkan harus melewati proses ekstrasi dengan metode komputasional tertentu. Biasanya pada saat ekstrasi invisible watermark diperlukan sebuah password yang disebut watermark key. Hanya orang yang memiliki watermark key ini yang dapat mengekstrasi dan melihat pesan verifikasi atau hak cipta tersebut.

Asyik sekali saya mengikuti seminar tersebut. Perasaan jenuh agak sedikit terobati. Bahkan malamnya, saya masih terhanyut memikirkan watermarking. Saya jadi ingat kembali masa-masa indah ketika kos di Tubagus Ismail Bawah Bandung, saat saya masih kuliah S1. Ada sebuah masjid di ujung jalan Sekeloa dan Tubagus Ismail Bawah itu. Orang-orang menamainya Masjid Al Ukhuwwah. Tidak terlalu besar, memang. Namun kegiatannya cukup semarak. Dan siapapun yang pernah tinggal di sekitar masjid itu, bahkan mungkin sampai sekarang, pasti mengenal suara yang membangunkan kita pagi-pagi untuk melakukan sholat shubuh berjamaah. Suara itu, suara pak Kadri. Suara azannya biasa saja. Nadanya juga sangat biasa. Tapi karena keistiqomahannya menyuarakan azan di saat sebagian besar dari kita masih terlelap, maka suara itu menjadi sulit dilupakan.

Pak Kadri, waktu mudanya hanya seorang kernet angkutan kota. Saat saya kos di Tubagus Ismail Bawah itu (kira-kira 15 tahunan kemudian) beliau sudah memiliki 3 mobil angkutan, 3 rumah yang dikontrakan, 1 rumah yang ditinggali, tiga putri yang berjilbab rapi dan sudah berhaji pula ! Namun kesederhanaannya tidak berubah. Beliau masih menyopiri sendiri salah satu angkotnya. Pun keistiqomahannya untuk menyuarakan azan shubuh. Dan jika di masjid, ada pengumuman yang memberitahukan adanya sumbangan dari seorang ‘hamba Allah’ yang cukup besar, kemungkinan dari pak Kadri. Beliau pula salah satu donatur tetap beasiswa untuk anak-anak tidak mampu yang yang dikelola masjid itu, yang tidak pernah mau disebutkan namanya.

Saya menjadi terkesiap. Bukankah ini contoh kongkrit watermarking yang ditunjukkan pak Kadri? Jika watermarking yang diseminarkan mahasiswa S1 itu diterapkan pada citra/gambar, bukankah pak Kadri telah berhasil menerapkannya pada amal? Beliau telah melakukan visible watermarking terhadap amalannya berupa kesederhanaan dan keteguhannya menyuarakan azan shubuh. Orang-orang di sekitar masjid itu tahu, tiap ada azan shubuh, itu adalah suara pak Kadri. Insya Allah malaikat akan mencatatnya sebagai amalan yang baik. Dan yang membuat saya salut, bukankah beliau telah melakukan invisible watermarking ? Beliau berinfak, tanpa mau disebutkan namanya. Pesan infaknya bergema di Masjid tapi tak banyak yang tahu bahwa itu infak darinya. Namun malaikat pencatat amal baik pasti tahu, bahwa itu adalah amalan Pak Kadri, seorang hamba Allah yang berusaha untuk tetap teguh dalam kesederhanaan, keistiqomahan, dan keikhlasan. Semoga Allah menetapkannya dalam golongan orang-orang yang sholeh sampai akhir hayatnya. Amin

 

 

WAK

 

 
Mengenal Huruf Kanji PDF Print E-mail
User Rating: / 6
PoorBest 

                                                oleh: Mokh. Sholihul Hadi 

Kanji (漢字), secara harfiah berarti “aksara dari Han Republik Rakyat Cina”) adalah aksara Tionghoa yang digunakan dalam bahasa Jepang. Kanji adalah salah satu dari empat set aksara yang digunakan dalam tulisan modern Jepang selain kana (katakana, hiragana) dan romaji.

Kanji dulunya juga disebut mana (真名) atau shinji (真字) untuk membedakannya dari kana. Aksara kanji dipakai untuk melambangkan konsep atau ide (kata benda, akar kata kerja, akar kata sifat, dan kata keterangan). Sementara itu, hiragana (zaman dulu katakana) umumnya dipakai sebagai okurigana untuk menuliskan infleksi kata kerja dan kata-kata yang akar katanya ditulis dengan kanji, atau kata-kata asli bahasa Jepang. Selain itu, hiragana dipakai menulis kata-kata yang sulit ditulis dan diingat bila ditulis dalam aksara kanji. Kecuali kata pungut, aksara kanji dipakai untuk menulis hampir semua kosakata yang berasal dari bahasa Tionghoa maupun bahasa Jepang.

Read more...
 
One-to-One Relationship: Kiat Hubungan Interpersonal PDF Print E-mail
User Rating: / 3
PoorBest 

Ada yang menarik dalam konsep relationship pada basis data, khususnya mengenai one-to-one relationship. Konsep ini mengenai bagaimana mentransformasikan ER model yang mengandung one-to-one relationship ke dalam model relasional. Apakah dua buah entitas yang memiliki one-to-one relationship ini akan ditransformasikan menjadi satu tabel atau dua tabel ? Kalau dua tabel, primary key dari tabel yang mana yang harus ditempatkan pada tabel yang lain menjadi foreign key ?

Saya akan mulai dengan contoh. Andaikan ada dua entitas : mahasiswa dan komputer. Jika asumsinya setiap mahasiswa mendapat fasilitas satu komputer dan setiap mahasiswa selalu menggunakan komputer yang sama untuk melakukan praktikum dari semester awal sampai dia lulus, maka relationship antara entitas mahasiswa dan komputer ini adalah one-to-one relationship. Jika ternyata masing-masing mahasiswa mendapat satu komputer dan tidak ada komputer yang tersisa (semua telah dialokasikan kepada mahasiswa), maka kedua entitas ini dinamakan memiliki mandatory one cardinality (total participation). Untuk kasus yang demikian, maka transformasi model ER ke model relational yang tepat adalah menjadi satu tabel. Kita satukan kedua entitas dengan atribut-atributnya ke dalam satu tabel.

Sebagai contoh: entitas mahasiswa memiliki atribut NRP (N), dan entitas komputer memiliki atribut kode_komp (K) dan tipe (T). Misal entity instance dari entitas mahasiswa adalah M={N1, N2, N3} dan entity instance dari entitas computer adalah K={(K1, T1), (K2, T2), (K3, T3)}, maka model relasionalnya menjadi tabel baru yang mengandung tiga field NRP, Kode_komp, dan Tipe dengan entity instancenya misal M_K = {(N1, K1, T1), (N2, K2, T2), (N3, K3, T3)}.

Jika kita bawa konsep di atas ke dalam konteks hubungan interpersonal (hubungan pribadi antara dua orang manusia), ini adalah hubungan interpersonal yang ideal. Misalnya diri kita adalah representasi dari suatu entitas, dengan atribut berupa keinginan, harapan, dll. Sementara itu, orang lain adalah entitas yang lain.  Jika setiap entity instance kita (keinginan/harapan) bertemu tepat dengan entity instance dari orang lain,  ( seperti transformasi model ER ke model relasional di atas yang menghasilkan satu tabel dengan menyatukan dua antitas), maka analoginya hati kita dengan hati orang itu seperti telah menyatu. Kita dapat merasakan apa yang orang lain rasakan begitu pula sebaliknya. Ini mungkin seperti yang diisyaratkan Nabi : tidak beriman seseorang sebelum dia mencintai suadaranya seperti kecintaannya pada diri sendiri.

Tapi memang sulit mewujudkan relationship yang ideal seperti di atas. Kenyataannya, kita sering berusaha memahami dan memperhatikan orang lain tetapi merasa bahwa orang lain tersebut belum memahami dan memperhatikan kita sepenuhnya. Konsep one-to-one relationship berikut akan memperjelas bagaimana kita harus bersikap.

Kembali ke contoh entitas mahasiswa dan komputer. Jika asumsinya departemen tersebut memiliki komputer yang berlebih. Maka setiap mahasiswa mendapatkan tepat satu komputer yang berarti entity instance dari entitas mahasiswa berpartisipasi penuh pada relationship (mandatory one cardinality). Sementara itu, karena jumlah komputer berlebih, maka ada komputer yang menganggur (alias tidak dialokasikan kepada mahasiswa) sehingga entity instance pada entitas komputer hanya berpartisipasi sebagian (optional one cardinality). Untuk kasus yang demikian, ketika ditransformasikan ke model relasional, akan menghasilkan dua tabel, yaitu : tabel mahasiswa dan tabel komputer. Dan yang terpenting adalah primary key dari tabel yang memiliki optional one cardinality (dalam hal ini tabel komputer harus ditempatkan ke tabel yang mandatory one cardinality (dalam hal ini tabel mahasiswa) sebagai foreign key. Tidak boleh terbalik. Jika terbalik, akan banyak nilai Null (kosong) pada tabel komputer.

Lebih jelasnya : jika misalnya M = {(N1, N2, N3} dan K = {(K1, T1), (K2, T2), (K3, T3), (K4, T4), (K5, T5)}. Primary key dari tabel komputer adalah field/atribut K. Sedangkan primary key dari tabel mahasiswa adalah field/atribut N.  Maka setelah ditransformasikan ke dalam model relasional menjadi dua tabel M` dan K`, yaitu: M` = {(N1,K1), (N2,K2), (N3, K3)}, di mana K1, K2, dan K3 sebagai foreign key dan K` = {(K1, T1), (K2, T2), (K3, T3), (K4, T4), (K5, T5)}.

Jika penempatan primary key terbalik, yaitu primary key dari tabel mahasiswa (N) ditempatkan ke tabel komputer (menjadi foreign key di tabel komputer). Maka akan menghasilkan tabel komputer yang memiliki nilai Null (kosong):

M` = {N1, N2, N3} dan K` = {(K1, T1, N1), (K2,T2, N2), (K3, T3, N3), (K4, T4, Null), (K5, T5, Null)}.

Dalam konteks hubungan interpersonal. Jika kita merasa tidak semua keinginan/harapan dipenuhi oleh orang lain maka analoginya kita seperti entitas komputer pada contoh di atas (yaitu memiliki optional one cardinality) sedangkan orang lain yang mungkin telah merasa cukup puas dengan relationship yang kita bangun, analoginya seperti entitas mahasiswa (yang memiliki mandatory one cardinality). Sesuai dengan contoh di atas. Kalau kita menemui kasus yang demikian, maka kitalah yang seharusnya berusaha lebih dulu menempatkan identitas (primary key) kita ke dalam hati orang itu. Selayaknya kita tetap bersabar/berusaha untuk selalu memulai memahami, memaafkan, menyapa, dll. Karena jika kita berbuat sebaliknya, menuntut orang lain untuk selalu memulai memahami kita (analoginya seperti salah menempatkan primary key pada contoh di atas), maka tanpa kita sadari di dalam hati kita akan semakin banyak kekosongan (seperti nilai Null yang terdapat di dalam tabel). Jiwa kita akan diliputi kehampaan. Ini mungkin yang diisyaratkan oleh para Nabi, manusia yang sempurna akhlaknya, agar kita berlomba-lomba “menyebarkan salam”, “menyebarkan senyum”, “dan selalu menjadi yang lebih dulu memaafkan”.

 

Wallahu ‘alam

 

WAK

(yang belum bisa melaksanakan konsep di atas)

 
Principal Component Analysis: Apakah Moralitas saja Cukup ? PDF Print E-mail
User Rating: / 6
PoorBest 

Hati saya sering terusik dengan komentar dan pandangan orang-orang mengenai apakah perlu kita beragama. Komentar itu muncul  karena sebagian besar negara yang penduduknya beragama berada dalam fase kemunduran. Performansi terbaik seperti yang dianjurkan agama tidak nampak. Citra positif seperti kerja keras, disiplin tinggi, menghormati sesama, menjaga kebersihan, dll tidak menjadi atribut yang melekat. Argumen di atas diperkuat lagi dengan fakta di depan mata kita bahwa Jepang yang mayoritas (hampir semua) penduduknya tidak beragama justru memberikan contoh keteladanan tersebut. Lalu apa perlunya agama ? Bukankah yang penting berperilaku baik, menghormati sesama, membantu manusia lain yang berada dalam kesulitan dan tidak mengusik/mengganggu privasi orang lain? Maka tentramlah dunia ini. Begitu kata sebagian orang yang menafikkan agama.

Selintas argumen di atas sangat masuk akal . Tapi coba kita melihatnya dengan kaca mata lain. Saya ingin coba menanalisisnya dengan Principal Component Analysis (PCA), sebuah teknik pereduksian dimensi yang baru saja saya pelajari pada semester ini di Tokodai. Tentu saja dengan segala asumsi dan keterbatasannya. Orang lain bisa saja menggunakan teknik lain dalam menganalisis dan hasilnya berbeda. Sah-sah saja. PCA  ini telah dijabarkan secara baik dan detil oleh mas Rasyid di salah satu artikel website PPI Tokodai ini. Mari kita buktikan apakah PCA menjawab keterusikan hati saya. (Kalau ada yang salah konsep maklum, dan tolong diingatkan, lha wong baru saja belajar. Nilainya saja belum keluar…hehehe..).

Kita ambil sampel secara proporsional orang-orang yang beragama dan orang-orang moralis (sebagai istilah bagi orang yang memandang bahwa di dunia ini yang penting menjunjung tinggi nilai moral tanpa harus beragama). Kita abaikan sampel orang-orang perusak, berperilaku menyimpang, atau bahkan psikopat. Toh, untuk tipe orang seperti ini, kedua fihak, baik orang-orang beragama maupun orang-orang moralis sepakat bahwa perbuatan tersebut tidak layak eksis di muka bumi ini. Jadi kita keluarkan dari sampel kita. Kemudian kita daftar atribut-atribut yang mungkin. Misal dari fihak penganut agama menyumbang dua atribut penting: Percaya pada Rabb (Tuhan pencipta semesta alam) dan Percaya pada hari Akhir (dibangkitkannya lagi manusia setelah mati). Dari fihak penganut moralis misal menyumbang banyak atribut (meskipun sebenarnya semua atribut ini juga merupakan atribut penganut  agama), misal: menghormati orang lain, membantu yang lemah, menghormati wanita (emansipasi), menyayangi binatang, disiplin, bekerja sama, dll.

Read more...
 
Pesan Tak Langsung Pak Waras : “Mumpung Belum Terlambat Belajarlah Kriptografi !” PDF Print E-mail
User Rating: / 1
PoorBest 

Anda kenal pak Waras ? Saya juga tidak. Tapi beberapa tahun yang lalu saya melihat namanya disebut-sebut media masa. Bukan karena ‘menjinakkan’ gunung seperti yang dilakukan mbah Marijan, tapi yang dilakukannya jauh lebih dasyat. Pak Waras mengembalikan kelebihan uang ganti rugi dari PT Lapindo akibat sawahnya tergenang lumpur. Dan tidak main-main, uang ganti rugi yang dikembalikanya 200 juta an ! Subhanallah.

Ceritanya pak Waras seharusnya menerima uang ganti rugi atas sawahnya yang tergenang lumpur Lapindo sekitar 50 juta an. Tapi tiba-tiba di rekening tabungannya telah tetransfer 250 juta an rupiah. Melihat uang sebesar itu dengan tergopoh-gopoh ia melaporkannya ke kepala desa. Dan akhirnya dengan bantuan kepala desa ia transfer kembali uang 200 juta-an kepada PT Lapindo. Ketika ditanya wartawan kenapa beliau mengembalikan uang yang begitu besar itu. Jawabnya singkat bahwa ia  tidak ingin hidup penuh kecemasan karena dikejar-kejar rasa bersalah. Subhanallah, di tengah-tengah ketidakjujuran yang merajalela, atau di tengah jaman yang makin edan ini (bhs jawa, artinya gila), ternyata masih ada yang benar-benar masih waras (lawan kata edan-masih menggunakan fikiran dan hatinya). Ya Pak Waras itu ! Saya terharu dan malu membaca berita itu. Kalau saya berada pada situasi yang sama dengan pak Waras, apa saya bisa sejujur dan sekuat itu, ya ?

Read more...
 
<< Start < Prev 1 2 3 Next > End >>

Page 1 of 3

Kampus Tokodai

2-12-1 Ookayama, Meguro-ku, Tokyo 152-8550
Suzukakedai Campus
4259 Nagatsuta-cho, Midori-ku, Yokohama, Kanagawa 226-8503
Tamachi Campus
3-3-6 Shibaura, Minato-ku, Tokyo 108-0023

Kontak Kami

Official purposes silahkan hubungi :
pengurus@ppitokodai.org
Pemasangan iklan silahkan hubungi :
iklan@ppitokodai.org
Mengenai website silahkan hubungi :
admin@ppitokodai.org
RocketTheme Joomla Templates