PPI Tokodai

Kegiatan

Zebra Pakar 2018

“Potensi besar” adalah kata - kata yang mendeskripsikan dunia penelitian di Indonesia. Namun kata potensi ini juga memperlihatkan usaha yang dibutuhkan oleh para  peneliti Indonesia untuk mengembangkan potensi tersebut hingga melahirkan jurnal-jurnal ilmiah yang inovatif. Namun, sayangnya potensi ini belum dikembangkan secara maksimal karena para peneliti terkesan “masih malu” untuk mempublikasikan jurnal ilmiahnya di dunia internasional. Dengan latar belakang ini Perhimpunan Pelajar Indonesia Tokyo Institute of Technology (PPI Tokodai) bekerja sama dengan pakar pendidikan dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menyelenggarakan acara ‘Zebra Pakar’ yang bertempat di kampus Tokyo Institute of Technology, Ookayama, Tokyo, pada hari Rabu, 21 Februari 2018. 


Konsep acara yang diusung adalah ‘Zebra Pakar’ yang merupakan singkatan dari ‘Zemi Bersama Pakar’. Dalam Bahasa Jepang, kata ‘Zemi’ sendiri adalah kata serapan yang diadopsi dari Bahasa Inggris yaitu Seminar. Pengunaan kata ‘Zemi’ sudah tidak asing dalam dunia akademik di Jepang. ‘Zemi’ digunakan sebagai sarana bagi mahasiswa untuk melakukan asistensi kepada pembimbing akademiknya. Meskipun konsep acaranya nampak serius, tetapi acara ini sengaja dikemas dengan tidak terlalu formal sehingga para peserta tetap dapat menikmati acara dan merasakan nilai-nilai keluargaan Indonesia. 


Acara dimulai pada pukul 13.30 waktu Tokyo. Acara ini dipandu oleh Dr. Farid Triawan (dosen di Tokyo Institute of Technology) yang bertugas sebagai moderator. Nara sumber pertama adalah Dr. Ade Gafar Abdullah yang merupakan Ketua Program Studi Pendidikan Teknologi dan Kejuruan Sekolah Pascasarjana UPI. Dalam pemaparannya yang bertema “Strategi Percepatan Publikasi Ilmiah di Indonesia”, beliau menjelaskan bahwa Indonesia masih tertinggal di dalam budaya kerja scientific dibandingkan dengan negara lain. Saat ini, publikasi jurnal ilmiah peneliti Indonesia masih didominasi oleh bidang Science dan Engineering, sedangkan bidang Sosial dan Humaniora masih perlu peningkatan. 


Maka dari itu, Dr. Ade Gafar Abdullah mendorong para peserta yang merupakan pelajar S2 dan S3 Indonesia untuk meningkatkan produktivitasnya dalam menulis jurnal ilmiah. Beliau menyatakan, “Yang Namanya menulis itu perlu proses”. Dalam sesinya, beliau memaparkan metode menulis jurnal kepada para penulis amatir. Tahapan menulis jurnal dapat dimulai dengan mencoba menulis jurnal yang tidak terakdreditasi secara bertahap berkembang hingga mampu menulis jurnal internasional level A. Tidak kalah menariknya, beliau juga berbagi strategi kepada para peserta tentang bagaimana peningkatan jumlah publikasi jurnal ilmiah di dunia internasional. Dalam hal ini, selain keinginan mahasiswa, dorongan dosen dan instansi penelitian juga sangat penting dalam kesuksesan penerbitan jurnal ilmiah. 


Sesi Dr. Ade diakhiri dengan pesan kepada para peserta untuk menggunakan fungsi kepeloporannya sebagai insan cendekiawan. Salah satu kegiatan yang konsisten dilakukan beliau adalah melakukan coaching clinic penulisan jurnal ilmiah baik kepada dosen-dosen  mapupun mahasiswa dari daerah ke daerah. Beliau percaya metode berbagi ilmu ini dapat menyebarkan keinginan dan minat untuk menulis.    


Kemudian nara sumber kedua adalah Dr. Asep Bayu D. Nandiyanto selaku dosen di UPI dengan H-Index Scopus 19. H-index adalah indeks yang digunakan untuk mengukur produktivitas seorang ilmuwan dalam penerbitan jurnal ilmiah dan mengukur dampak dari karya ilmiah tersebut untuk penulisan karya ilmiah lainnya. Semakin banyak publikasi dan dirujuk oleh karya ilmiah lainnya, maka angka H-index juga akan semakin besar. Selain itu, beliau juga tercatat sebagai Top 50 Authors di Indonesia.


Dalam presentasinya, beliau mengangkat topik “Senangnya Berkarir Sebagai Dosen Sekaligus Peneliti di Indonesia”. Dr. Asep Bayu yang kerap dipanggil Dr. Asbay memiliki segudang prestasi di dunia akademik internasional dan pernah berkarir sebagai asisten profesor di King Saud University, Arab Saudi dan Hiroshima University, Jepang. Berkarir di tingkat internasional tidak menyurutkan niat beliau untuk menlanjutkan karir dan risetnya di Tanah Air.


Dari pengalamannya tersebut, beliau menginspirasi para peserta untuk tidak lupa pulang ke tanah air karena Indonesia memerlukan banyak peneliti handal. Selain itu, beliau juga berbagi suka dan duka melakukan penelitian di Indonesia. Salah satu hal yang wajib diacungi jempol adalah konsistensi dan kreativitas Dr. Asep saat melakukan penelitian. Beliau bercerita salah satu duka yang ia temui adalah ketidaktersediaannya alat. Namun, rintangan ini tidak menghalanginya untuk menjalankan penelitian. Terobosan yang ia lakukan adalah membuat sendiri alat-alat yang ia perlukan sehingga saat ini ada alat yang sudah dipatenkan. Beliau juga menunjukkan foto rumahnya yang setengahnya disulap menjadi laboratorium pribadinya. Hal ini membuat para peserta terkejut dan terpukau. Di akhir sesi, Dr. Asep berpesan bahwa Indonesia tidak butuh orang-orang pintar, tetapi butuh orang yang dapat bekerja sama. Menurut beliau, kemampuan bekerja sama adalah hal vital yang diperlukan untuk melangsungkan riset karena riset bukanlah pekerjaan pribadi, tetapi merupakan pekerjaan bersama. 


Usai presentasi, kegiatan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Antusiasme yang tinggi ditunjukkan oleh peserta dengan banyaknya pertanyaan yang ditanyakan kepada nara sumber sehingga waktu seminar diperpanjang 30 menit. Setelah sesi tanya jawab, ketua PPI Tokodai, Mushlih Harrik memberikan sertifikat kepada semua nara sumber dan moderator.

 

By    : Angelia Hartanti 

PPI Tokodai