PPI Tokodai

Kegiatan

Tentang Angklung, Jepang dan PPI

Budaya, sebuah kata yang mungkin tidak terlalu berarti bagi saya, sebelum menginjakkan kaki di negeri lain yang dimana saya memiliki izin legal untuk tinggal lebih dari 15 hari.

Waktu kecil, kita selalu didoktrin dengan bagaimana kita harus melestarikan budaya Indonesia. Bahkan sampai di titik untuk melindunginya. Beberapa malah terlalu jauh menanggapinya, yaitu dengan menuai pertengkaran dengan negara tetangga, yang katanya telah mencuri beberapa budaya kita. Kenapa saya beri italic, karena sampai saat ini saya pun tidak tahu apakah hal yang telah terjadi tersebut benar-benar layak disebut mencuri atau tidak.

Lepas dari itu, saya ingin akui bahwa usaha Pemerintah Jawa Barat (atau Kementrian Pendidikan, saya kurang tahu tepat, maaf kurang riset) lumayan sukses untuk menumbuhkan perasaaan cinta akan budaya–dengan cara menempatkan Karawitan sebagai mata pelajaran wajib–di dalam benak manusia skeptical macam saya ini. Kenapa skeptical? Karena meskipun saat SD bisa dibilang saya unggul dalam mata pelajaran Karawitan (dulu saya appointed best bonang player di angkatan, haha), saya gak serius menekuninya alias gak sampai ikutan lomba gamelan.

Anyways, pikiran skeptical ini mulai sadar kalau selama ini saya mencintai budaya Indonesia, setelah diberi kesempatan untuk belajar di luar negeri. Karena di luar, kita membawa identitas. Saya, wanita, muslim, berhijab, Indonesia, Mechanical Engineering. Itulah identitas saya disini. Beberapa identitas saya banyak yang terdengar aneh karena meskipun terlihat hi-tech modern dan glamor dari luar, Jepang ternyata dibentuk dari pola pikir yang secluded dan cenderung membatasi intervensi budaya luar. Walhasil, banyak yang gak tahu soal hijab yang saya pakai, soal makanan halal dan pengetahuan Indonesia pun cuma sebatas soal Bali. What a great opportunity to introduce my own identity.

Dan semua unconscious feeling tentang kecintaan saya terhadap budaya Indonesia, muncul ke permukaan ketika saya bertemu kembali dengan sebuah alat musik yang dulu sering saya mainkan saat SMP, ingin saya mainkan lagi saat kuliah namun apa daya ketertarikan saya terhadap keprofesian di himpunan lebih mengambil alih, yaitu: Angklung.

Lalu, mengapa saya bisa begitu yakin dan menamakan perasaan ini cinta?

(cringe)

Karena sejujurnya bisa saja saya memilih untuk hanya fokus pada tujuan utama saya disini; riset, riset, dan riset. Karena, untuk apa repot-repot selama setahun mengkoordinir (kadang sampai mengancam dan memarahi, sorry guys) teman-teman yang sama-sama sibuk dengan kegiatan perkuliahan dan riset untuk latihan seminggu sekali, menggotong koper-koper besar berisi angklung (yup, kami tidak punya ruangan yang layak untuk menyimpan angklung di kampus, hiks) ke ruangan kelas kosong dari jam 7 malam hingga akhirnya bisa beristirahat di apartmen sekitar jam 10 malam?

Sebagian dari saya juga merasa mungkin ini salah satu escape mechanism saya untuk keluar dari kegiatan lab yang menjenuhkan (haha). Tapi sampai mau repot-repot mengkoordinir selama setahun lebih? Nope, must be more than that.

Anyways, inti dari post ini adalah saya hanya ingin membuat dokumentasi kecil-kecilan tentang apa yang telah saya–kami, tim Angklung PPI Tokodai (singkatan japanis dari Tokyo Institute of Technology) lakukan selama di Jepang. Menulis adalah bekerja untuk keabadian, kata Pramudya Ananta Toer. Jadi ya.. jadilah.

Juga lewat Angklung ini, saya mengalami beberapa hal yang unik yang tentu saja tidak akan didapatkan jika hanya berfokus pada riset, riset, dan riset (meskipun fokus di riset juga harus sih, hehe). Sebut saja akhirnya saya bisa masuk di sebuah acara di Televisi Nasional Jepang, manggung di Haneda Airport, dan sisanya manggung di acara internal kampus plus malah di tempat penitipan anak belakang kampus (haha, lagi).

Akhir kata, saya tahu kalau situasi ke depan mungkin tidak bisa sama dengan yang lalu. Jumlah beasiswa ke Jepang baik itu dari pemerintah Jepang sendiri maupun dari pemerintah Indonesia sudah tidak seroyal yang lalu-lalu, yang mengakibatkan penurunan penerimaan jumlah mahasiswa Indonesia di kampus burung walet ini. Karena Angklung merupakan alat musik yang dimainkan secara keroyokan, hal tersebut tentu saja akan berakibat pada masa depan tim kami ini.

Tapi ya, que sera sera. Yang penting spirit harus tetap dijaga.

Salam olahraga!

(check out our performance videos on PPI Tokodai’s Youtube Channel)

Penulis: Rubani Firly

Master Tahun kedua

Inaba-Oshima Laboratory

Topik Riset: Bubble Dynamics

IG: rubani.firly

PPI Tokodai