PPI Tokodai

Pengalaman

Pengalaman Student Exchange di Tokyo Institute of Technology

  Spring di Tokodai

Spring di Tokodai

Ngomongin pengalaman sekolah ke luar negri pasti nggak ada habisnya. Mendapatkan kesempatan sekolah ke Jepang gratis, menurut saya siapa sih yang nggak mau? Pengalaman saya sebenarnya sudah dimulai semenjak tingkat awal kuliah. Dari dulu saya memang sudah mulai mencari program-program sekolah ke luar negeri yang kira-kira dapat saya ikuti.  Sampai akhirnya saya menjatuhkan pilihan pada sebuah program yang pada waktu itu hanya tersedia untuk tiga universitas di Indonesia, yaitu UI, ITB dan UGM. Program tersebut bernama Young Scientist Exchange Program (YSEP) dari Tokyo Institute of Technology, atau biasa dikenal dengan Tokodai. Namun karena keterbatasan tingkat, saya menunggu hingga akhir tingkat 3 untuk mendaftar.

Proses seleksi yang bisa saya ceritakan hanya dari ITB saja, namun setahu saya seleksi dari dua universitas lain cukup seragam. Adapun prosesnya secara umum dibagi menjadi 3 tahap:

-        Document Screening

-        Interview

-        Internal Selection dari Tokodai untuk menentukan Beasiswa

Pada tiap tahap itu saya menjelaskan lebih rinci pada laman blog saya yang bisa dikunjungi di: http://astronutmers.blogspot.co.id/2015/10/pengalaman-seleksi-ysep-young-scientist.html

Pada umumnya program yang saya ikuti mengharuskan saya untuk melakukan sebuah riset. Terdengar serius? Nanti dulu, nyatanya banyak sekali yang mungkin dilakukan di Tokodai selain riset dan itulah yang sebenarnya mewarnai hari-hari saya di Tokodai.

  Pertama kali tiba di Tokodai

Pertama kali tiba di Tokodai

Ketika baru sampai di Tokyo, salah satu hal pertama yang saya lakukan adalah mengunjungi Tokodai dan Lab saya. Lab saya terbilang cukup dekat dengan gerbang utama Karena berada tepat di samping gedung utama. Kehidupan lab cukup homogen. Kalau rajin biasanya saya datang jam 10:00 dan pulang jam 18:00. Untungnya (?) lab saya tidak mengharuskan mahasiswanya datang ke lab setiap hari. Kehidupan lab saya pada semester satu bisa dibilang sangat santai, seminggu mungkin hanya satu dua kali mengunjungi lab. Oke ini bukan contoh yang baik sih tapi intinya ada beberapa lab yang memang perkerjaannya dapat dilakukan dimana saja. Kebetulan lab saya waktu itu tidak memerlukan peralatan khusus yang mengharuskan saya standby di lab. Keuntungan saya ke lab pada waktu itu adalah bisa bertanya kalau ada yang tidak diketahui. Untuk kehidupan sosial di lab, orang Jepang terbilang sangat serius dalam mengerjakan pekerjaannya, terbukti dari heningnya ruang lab ketika jam kerja, dan jarang banget ada yang ngobrol kecuali diskusi mengenai riset.

  Fuji bareng temen Lab

Fuji bareng temen Lab

YSEP juga memastikan kamu untuk ikut kelas kelas yang berhubungan dengan kehidupan di Jepang. Pada semester pertama, satu pelajaran yang paling mengesankan adalah kelas Fieldwork dari Prof. Tom Hope yang mengharuskan kami untuk ke luar ke tempat-tempat umum seperti café, pachinko maupun stasiun kereta, disana kami diminta untuk duduk dan mengamati aktivitas orang Jepang. Menyenangkan karena kami jadi bisa mencoba pachinko (semacam game casino), dan mengunjungi Gay Café yang ternyata saya baru tau banyak sekali di Tokyo.

  Homestay Family

Homestay Family

Selain kelas wajib, kami juga dapat memilih kelas lain. Kelas yang dapat diambil tidak banyak karena dosen yang memberikan kelas dengan bahasa Inggris tidak banyak. Namun, untuk mata kuliah program master di Tokodai nampaknya sudah semuanya menggunakan bahasa Inggris. Saya juga boleh mengambil kelas dari luar program studi. Jadi, walaupun tidak ada hubungannya dengan riset, saya mengambil mata kuliah ekonomi dan bahasa inggris (debat) di Tokodai.

  Akhir tahunan, sama orang Indonesia yang baru kenalan di Jalan secara random #truestory

Akhir tahunan, sama orang Indonesia yang baru kenalan di Jalan secara random #truestory

Nah sekarang saya akan bicara soal PPI alias Persatuan Pellajar Indonesia. Satu hal yang unik dari Tokodai adalah kalian tidak akan pernah merasa jauh dari rumah (Indonesia). Kalau ke kantin, ketemunya orang Indonesia, mau nge-gym ketemunya orang Indonesia, mau sholat ketemunya orang Indonesia. Dengan luas kampus yang tidak sebesar ITB dengan mahasiswa Indonesia sekitar 70 orang (dulu), membuat Tokodai jadi salah satu kampus di Jepang yang paling banyak orang Indonesianya. Oleh karena itu PPI Tokodai merupakan salah satu PPI paling aktif di Jepang.

  Lab di Tokodai

Lab di Tokodai

Awal semester satu saat saya sampai di Jepang, PPI banyak sekali membantu. Mulai dari menunjukan tempat belanja halal, tempat beli barang bekas elektronik berkualitas, dan menunjukan tempat tempat di sekitar Tokyo. Kegiatannya pun cukup beragam, saya pernah ikut main angklung, futsal, dan piknik yang diadakan PPI. Semuanya sangat berkesan. Terima kasih, PPI!

  Keluarga beasiswa Sato-Yo

Keluarga beasiswa Sato-Yo

Selain PPI juga ada komunitas pelajar asing yaitu, TISA. TISA merupakan sebuah organisasi untuk membantu mahasiswa non-jepang dan mengadakan acara untuk mahasiswa asing. Kegiatannya juga cukup banyak, namun saya tidak cukup aktif disini. Tapi jika kamu merasa Tokodai terlalu ‘Indonesia’, kamu harus banget join TISA dan bergaul dengan orang-orang dari seluruh penjuru dunia. TISA bisa dibilang cukup aktif karena mahasiswa asing di Tokodai juga cukup banyak.

  Lab BBQ

Lab BBQ

Selain itu ada juga program ektrakulikuler, ini biasanya jarang banget yang ikut apalagi untuk mahasiswa asing. Kebanyakan ektrakulikuler komunikasi antar anggotanya pake bahasa Jepang, jadi kalau kamu masuk pasti awkward, namun ternyata nggak semua. Ada beberapa ektrakulikuler yang bahasa pengantarnya menggunakan bahasa Inggris, dan biasanya tiap semester ada pengenalannya di HUB-ICS W9. Saat itu kebetulan saya ikut dan tertarik untuk join salah satu unit yang ada disana yaitu ESS. ESS atau English Speaking Society adalah grup debat Tokodai yang cukup aktif. Seminggu kira-kira ada dua kali pertemuan untuk debat. Dari sini lah saya banyak berinteraksi dengan orang-orang Jepang, bahkan banyak sekali teman dekat saya yang sampai sekarang masih keep contact.

  Akhir tahunan bareng homestay family

Akhir tahunan bareng homestay family

Program yang tidak kalah seru lainnya adalah homestay. Di sini saya diberi kesempatan untuk hidup dengan orang Jepang selama dua hari satu malam. Waktu itu karena satu dan lain hal, saya mendapat dua keluarga yang mau menampung saya :D Di sini kita bisa melihat lebih dekat bagaimana sih kehidupan orang Jepang sehari hari dirumahnya. Ketemu anak-anak jepang yang lucu banget jadi pengen bikin (?) juga #ups.

  Halloween sama temen-temen YSEP

Halloween sama temen-temen YSEP

Student Exchange merupakan program yang sangat saya rekomendasikan untuk semua orang, banyak sekali pengalaman yang bisa didapat dari sini. Hal-hal di atas baru aktivitas yang bisa dilakukan di dalam kampus. Banyak sekali aktivitas yang dapat dilakukan di luar kampus. Tiap akhir minggu pasti ada saja event di Tokyo yang siap didatangi. Tidak hanya Tokyo, tempat lain pun sangat menyenangkan untuk dikunjungi, mulai dari serunya Ski di Madarao, melihat patung es di Sapporo, nyobain onsen di Beppu sampe  melihat indahnya sakura di Arashiyama. Sampai akhir progam kira kira sudah 23 prefektur dari 47 prefektur yang ada di Jepang (banyak ya?) yang sudah saya kunjungi. 

  Hotpot waktu saya ulang tahun, sama temen2 YSEP + Dorm

Hotpot waktu saya ulang tahun, sama temen2 YSEP + Dorm

Saran saya jika kalian berkesempatan mengikuti program ini adalah,  betapapun menggiurkan hal-hal lain yang bisa kamu lakukan selagi exchange lakukan kewajiban utama kalian yaitu belajar, untuk kasus saya riset dan jangan lupa buat memori sebanyak-banyaknya disana, dan cari sebanyak-banyaknya teman.

  Arashiyama, dengan hanya sepeda & kamera saat sakura

Arashiyama, dengan hanya sepeda & kamera saat sakura

 

 

 

Rizka Risyad

Mahasiswa Teknik Elektro ITB 2012

 

Picture13.png
PPI Tokodai