PPI Tokodai

Pengalaman

Seishun 18Kippu Tokyo – Hakodate: From Underwater Shinkansen to 5-Star Ferry Ride

“I am sorry brother, we are closed,”

terdengar suara dari dalam intercom, entah siapa yang mengucap dan bagaimana wujudnya. Kalau dinilai dari aksen sih, kemungkinan besar dari daerah sekitar IPB (India-Pakistan-Bangladesh)–wait ini gak penting sih–karena yang penting saat itu adalah bagaimana kami, dua orang brothers dan satu orang sister yang baru saja mengisi perut dengan semangkuk ramen porsi large dari Ayam Ya, bisa sampai di Ueno Station esok hari sekitar jam 5 pagi untuk memulai trip ke Hakodate ini.

Day 0

Memang manusia hanya bisa berencana, Tuhan lah yang menentukan. Atau spesifiknya dalam kasus ini, Brother Marbot Masjid Okachimachi-lah yang menentukan. Satu pelajaran, kita tidak bisa menyamakan kondisi di Indonesia dengan di Jepang, dimana masjid buka 24 jam dan bisa dijadikan tempat bermalam. Mau tak mau, kami harus berpikir cara lain untuk mengejar kereta jam 05:13 di Ueno agar bisa sampai di Aomori jam 22:15. Wah gimana dong ya?

Menginap di Karaoke sekitar Ueno memang jadi pilihan. Tentu saja ada added cost yang lumayan mengingat saat itu menjelang akhir tahun dan lokasinya pun di Ueno. Alhamdulillah, salah satu anggota tim memiliki kartu extra ability yg dinamakan Driving License. Maka ide yang digunakan saat itu adalah menyewa mobil selama 6 jam di sekitar Ueno Station untuk balik ke apato masing-masing, lalu memulai kembali trip naik mobil dari jam 4 pagi.

Selanjutnya, pulanglah kami ke daerah dimana tempat banyak orang Indonesia berhimpun; Miyazakidai. Menggunakan mobil sedan (yang saya pun lupa tipenya apa), karaokean di mobil dengan bahasa indo, dengan added cost yang tidak terlalu mengagetkan; 4050yen dibagi 5 orang.

Trip Tips: Memiliki anggota tim yang mempunyai extra ability seperti driving license akan sangat bermanfaat.

Day 1

Ada dua rute perjalanan yang bisa dipilih untuk sampai ke Aomori; 1) Tokyo – Takasaki – Niigata – Murakami – Akita – Odate – Aomori, atau 2) Tokyo – Utsunomiya – Fukushima – Sendai – Kitakami – Akita – Odate – Aomori. Nah loh. Pusing, kan? Iyah saya juga. Untuk itu agar lebih jelas mari kita amati gambar berikut:

18kippu-aomori.jpg

Rute 1): Blue, Rute 2): Pink

Untuk pergi, kami pilih rute biru. Untuk pulang, kami pilih rute pink. Alasannya? Gak ada juga, sih. Agar semuanya terlewati dan terasakan saja. Mungkin ada beberapa pembaca yang kritis heran mengapa kedua jalur harus sama-sama bermuara di Akita sebelum akhirnya bertemu di Aomori? Karena di Akita kita mau beli beras–bukan, woy. Karena kalau lewat Iwate, ada jalur private railway alias non-JR dimana akan ada added costsebesar 800yen–yang kalau dikonversikan senilai 7 buah onigiri. Maka dari itu, rute pulang yang dipilih adalah seperti itu.

Anyway, back to the story. Alhamdulillah semua brothers and sisters telah berkumpul. Itinerary dari Hyperdia belum ada yang terlewat. Salju pertama muncul di Numata Station, daerah Prefektur Gunma. Agar lebih menghayati momen, saya pun semerta-merta memutar lagu Numata – Raja Jatuh Cinta di Spotify (oke ini gak penting sih).

Hal istimewa dari Rute Biru ini adalah, kita disuguhkan dengan pemandangan pesisir pantai barat laut Jepang. Yup, dari pinggir kereta kalian bisa melihat deru ombak bercampur dengan salju. Sebuah pemandangan yang wow. Transfer jalur pun tidak terlalu banyak jika dibandingkan dengan Rute Pink. Namun, kereta yang dipakai rata-rata agak jadul alias cuma 2 gerbong, dimana artinya bahwa kereta ini rentan terhadap perubahan cuaca.

Qadarullah, saat menuju Akita, kereta kami dilanda badai salju. Awalnya telat sekitar 20 menit yang mengakibatkan hampir seluruh penumpang berhamburan layaknya Hunger Games untuk mengejar kereta selanjutnya. Kemudian kereta terhenti di tempat antah berantah (mau liat keluar pun gelap semua) yang mengakibatkan delay 90 menit. Beruntungnya, salah satu sister kami alias team leader, memutar otak (lebih tepatnya browsing Hyperdia) dan menemukan cara lain untuk sampai Aomori (karena udah keburu booking hotel disana), yaitu dengan menggunakan kereta express dari Akita. Setelah melalui pergulatan batin, akhirnya added cost sebesar 5000yen tak terelakan. Jika dikonversikan mungkin sebanyak 10 mangkuk kakiage soba ter-enak (Shibu Soba Aobadai dan Fuji Soba Ookayama lewat, gan) yg sempat kami makan saat istirahat di Murakami Station.

Apa dinyana, namanya juga hidup. Untuk menetralisir suasana, akhirnya kami bermain kartu remi dan gaplek di dalam kereta express. Alhamdulillah, sampai Aomori jam 23, check in hotel, lalu tidur.

Trip Tips: Untuk train trip sejauh 789 km ini keberadaan anggota berkemampuan bahasa Jepang native level sangatlah krusial, karena pengumuman dari masinis seringkali ngegas alias gak sepelan dan sejelas omongan nihongo sensei di kelas.

Day 2

Saatnya menyebrang ke Pulau Hokkaido!

Untuk rute pergi, kami menggunakan kapal Ferry. Harga tiket 2500yen (karena akhir tahun) untuk kelas Standard. Jadi di dalam Ferry ini ada kelas-kelasnya gitu sih. Yang paling tinggi sampai ada tempat tidurnya. Untuk lebih jelasnya bisa cek di (https://www.tsugarukaikyo.co.jp/ferry/blue_happiness/)

Sesungguhnya awalnya kami tidak menaruh banyak ekspektasi pada Kapal Ferry ini. Tapi ternyata fasilitasnya sangat wow. Kelas standard menyediakan ruang kosong yang bisa digunakan selonjoran dan bermain kartu bersama. Fasilitas MCK pun sangat nyaman dan luar biasa, bahkan mungkin terbaik dari keseluruhan trip ini. Setelah dingin-dingin berfoto di luar kapal, kami pun menghangatkan badan dengan fasilitas Jihanki atau vending machine yang terdiri dari minuman hangat, sampai takoyaki instan, plus cup noodles. Pokoknya dabest lah.

Pemandangan di deck ferry

Pemandangan di deck ferry

Banana Choco Latte: Minuman ter-osusume di dunia per-jihanki-an raya.

Banana Choco Latte: Minuman ter-osusume di dunia per-jihanki-an raya.

Frozen Takoyaki: Just Renji and Done!

Frozen Takoyaki: Just Renji and Done!

Wajah-wajah bahagia saat turun dari kapal

Wajah-wajah bahagia saat turun dari kapal


Lanjut mengamati sekitar, setelah check-in hotel kami lanjut ke tujuan paling terkenal di Hakodate, yaitu Hakodateyama untuk melihat Million Dollar View!

Satu kata setelah sampai disana, penuh banget! Mungkin karena semua orang mengejar sunset, walhasil jadilah gak kekejar. Ditambah liburan akhir tahun. Akhirnya setelah mengantri, dapat juga foto si Million Dollar View ini. Menggunakan handphone, pun. Karena kamera saya kurang wide dan tangan udah mati rasa saking dinginnya, gak mampu buat ganti lensa on the spot. Haha.

Dat Million Dollar View (tapi burem)

Dat Million Dollar View (tapi burem)

Info tambahan, ternyata di Hakodateyama ini ada Cremia. Harganya 50 yen lebih murah dari di Tokyo (penting banget, dah). Saat ingin naik ropeway turun ke bawah pun terjadi kericuhan, yang mengakibatkan jalur mengantri diputar ke arah luar, dimana di luar sedang badai salju. Feels like minus tak hingga derajat Celcius.

Setelah selesai, lalu menghangatkan diri dengan sekaleng Shiroi Koibito drink yang rasanya surgawi, kami mencari makan. Tidak seperti Sapporo atau Asahikawa yang sudah ada restoran Halal-nya, di Hakodate ini belum ada. Salah satu brother kami, sangat dedicated dalam mencari tempat makan, akhirnya menemukan restoran bernama Tempura Tendon (namanya gak variatif banget ya), harga sekitar 1000yen. Dengan ekspektasi rendah, kami memasuki restoran yang terlihat sederhana tersebut. Ternyata eh ternyata, rasa anago tempura-nya sangat enak! Miso sup-nya pun tidak seperti miso instan pada umumnya. Tendon Tenya lewat sudah.

Anago-don: meskipun terlihat sederhana, tapi rasanya luar biasa.

Anago-don: meskipun terlihat sederhana, tapi rasanya luar biasa.

Setelah mengisi perut, kami berniat untuk melihat illumination di Motomachi. Akan tetapi kombinasi udara dingin, angin, gelap dan berjalan di tumpukan salju memang tidak diciptakan untuk manusia yang menghabiskan mayoritas hidupnya di negara tropis seperti kami, walhasil destinasi selanjutnya adalah istirahat di hotel.

Hotel di Hakodate ini cukup unik karena termasuk capsule Hotel (https://capsule-hakodate.jp/). Di ruang tengah ada tempat yang luas, free hot drink, ada bean bag dan kotatsu, cozy banget untuk dipakai nongkrong. Yang tidak kalah menarik adalah adanya board game berjudul The Game of Life yang ternyata adalah perjudian terselubung berkedok Monopoly. Hahahahah.

Dum-dum-durudumdum (soundtrack GoT)

Dum-dum-durudumdum (soundtrack GoT)

Day 3

Pagi hari sudah siap check-out hotel. Ternyata meskipun kami berisik bermain judi di ruang tengah hingga larut malam, sang ibu-ibu hotel (sepertinya dia adalah admin sosmed hotel tersebut) meminta foto kami dan minta izin untuk dibagikan di sosial media-nya. Yha.

On our way.. to be femes.

On our way.. to be femes.

Selepas check-out, tentu saja target selanjutnya adalah Hakodate Morning Market! Sekaligus menjelajah pesisiran pantai melihat Red Brick. Setelah mengamati sekitar, karena sudah memasuki hari ke-3 dan uang mulai menipis, akhirnya pilihan jatuh pada Food Court yang menawarkan Kaisendon termurah, yaitu 555yen. Saya sendiri memesan Hokkaidon, for the sake its name, of course.

Makan Hokkaidon di Hokkaido

Makan Hokkaidon di Hokkaido

Sepulang dari sana, tanpa sengaja menemukan another killer view yang menurut saya paling top di keseluruhan trip ini, dimana ada pemandangan Hakodateyama, pinggiran kota, laut, dan tentu saja, salju.

Brothers and Sisters

Brothers and Sisters

Berbagai macam pose dilakukan disana. Dari yang paling normal sampai yang paling aneh; gaya tersungkur terjerembab di tumpukan salju, toss sama patung mbak2, nari bersama patung mbak2, sampai fusion a la Goku. Setelah puas, kami beranjak ke mainstream spot di Hakodate, yaitu Bay Area, dimana ada Red Brick dan pusat perbelanjaan. Beberapa dari kami khilaf melihat barang-barang disana. Oh! Disini ada cabang Otaru Music Box, tapi tentunya gak seluas disana, yah. Pokoknya lumayan seru.

Last stop di Hakodate adalah Hachimanzaka Slope. Karena namanya juga slope, jadi jalan kesana lumayan menanjak. Gak sampai atas karena sudah lumayan lelah dan harus mengejar kereta pulang di Hakodate Station. Alhamdulillah dapat foto yang lumayan menggambarkan slope ini.

Hachiman-zaka Slope

Hachiman-zaka Slope

Setelah selesai, maka mulai berpacu dalam waktu (alias ngejar-ngejar kereta lagi). Oh, satu keunikan dari kota Hakodate ini, untuk transportasi dalam kota menggunakan tram, yang tentunya cuma satu gerbong. Bentuknya lucu, bayarnya pakai tiket (IC Card bisa sih, cuma PASMO gak bisa dipakai, yang bisa Suica atau Kitaca). Stasiun tram ada di tengah-tengah jalan.

Hakodate Tram

Hakodate Tram

Setelah mendarat di Hakodate Station, kami pun cuss naik Shinkansen.

Wow tajir banget naik Shinkansen?

Eits, jangan kagum dulu, Sobat Miskinku. Justru ini adalah (mungkin) satu-satunya rute option naik Shinkansen termurah untuk para 18kippu-ers, karena hanya dengan menambah tiket opsional JR 18Kippu Shinkansen tiket hanya sebesar 2300yen, kami bisa naik Hayabusa untuk menyebrangi Hokkaido untuk pulang ke Honshu. Syaratnya? Hanya berlaku antara satu station terujung di Hokkaido (Kikonai Station) sampai stasiun ter-utara Honshu (Okutsugaru-Imabetsu Station).

Pengalaman naik Shinkansen tentu saja menyenangkan, apalagi kami melewati Seikan Tunnel, yang merupakan salah satu proyek terambisius yang berjalan selama 30 tahun. Didorong oleh kecelakaan kapal yang menewaskan 1100 orang di tahun 1954, Jepang mulai membangun underwater tunnel ini agar transportasi antar Honshu – Hokkaido lebih aman. Tunnel ini sudah cukup lama beroperasi untuk dipakai kereta barang ataupun kereta penumpang, tapi baru sekitar 2 tahun yang lalu dilalui Hayabusa. Lebih lengkapnya.

Setelah akhirnya turun di Okutsugaru-Imabetsu Station, kami harus pindah Station ke yang namanya Tsugaru-Futamata. Ternyata eh ternyata station yang ini sangat berbanding terbalik dengan yang satunya lagi. Hanya ada satu jalur rail dan bahkan gak ada tempat jagain tiket. Wow. Suatu kesenjangan abad ini memang. Lalu kereta kami untuk ke Aomori pun datang, hanya dua gerbong dan jadul seperti biasa.

Sesampai di Aomori, makan, lalu check-in hotel. Niat untuk menjelajah Aomori pun batal karena raga ini sudah mulai lelah.

Day 4 (Final Day)

Sebenarnya tidak ada yang spesial di hari ini, karena sebenarnya hanya perjalanan pulang saja. Kami melewati Rute Pink yang mana tidak ada pemandangan pinggir laut (tapi tetep indah sih, kayak Winterfell gitu) hingga ke Sendai. Di Sendai karena Gyutan Halal tutup, kami makan ramen vegetarian di T’s Tan Tan yang ternyata cabangnya dari Jiyugaoka (daerah deket kampus, lol).

Setelah dari Sendai, kereta yang ada umumnya seperti kereta di daerah Tokyo, namun ditambah toilet. Jadi lumayan cepat yah. Akan tetapi kelemahan dari Rute Pink adalah banyak transfer kereta. Alhamdulillah di perjalanan pulang tidak ada delay jadi semuanya bisa selamat sampai Tokyo pada tanggal 31 Desember 2018 mendekati dini hari.

Verdict

“Bersafarlah, sesungguhnya dalam safar ada lima keuntungan, yaitu: menghibur diri dari kesedihan, mencari hasil usaha (mata pencaharian), memperoleh tambahan ilmu, lebih banyak mengenal adab kesopanan, dan menambah kawan yang baik (mulia)” — Imam Al Ghazali

Ciao!

Rubani Firly

Master Tahun kedua

Inaba-Oshima Laboratory

Topik Riset: Bubble Dynamics

IG: rubani.firly

PPI Tokodai