PPI Tokodai

Pengalaman

5 Tahun Kemudian: Tentang Jepang dan Kesempatan Mengenal Diri Sendiri

Saya tidak bisa mengira-ngira hal yang menarik untuk disampaikan kepada sesama mahasiswa Nusantara yang mengenyam pendidikan di luar negeri, apalagi saya yakin sepenuhnya bahwa hampir semua teman-teman yang berada di sini jauh lebih kompeten dari saya sendiri dalam berbagai hal; entah itu secara akademis, mengatur waktu maupun keuangan, ataupun mengurus diri dan dalam hal merencanakan masa depan. Jadi untuk itu saya tidak akan menulis saran, tips atau cerita menarik selama hidup di Jepang, tapi hanya akan berbagi apa yang menurut saya adalah pelajaran paling berharga yang telah saya peroleh berkat pergi jauh ke negara orang untuk mengejar pendidikan, yaitu sebuah kesempatan untuk belajar dan menyadari banyak hal tentang diri sendiri.

 

Saya tiba di sini tidak lama usai menyelesaikan sekolah menengah atas. Culun, kurus dengan rambut yang terlihat lebih berat dari tubuhnya sendiri – hal-hal yang masih belum berubah sampai sekarang. Saya lugu, begitu lugu saya tersentak dengan setiap hal yang berbeda dari biasa. Begitu lugu hingga perbedaan, sebuah unsur dasar yang melahirkan keberagaman selalu saya pandang dengan mata curiga dan perasaan aneh.

 

Hal pertama yang jadi bahan pelajaran penting saya setelah sampai di tanah ini anehnya adalah menyadari lebih dalam mengenai keberagaman Indonesia. Sebagai seseorang yang hampir seumur hidupnya tinggal di kota Medan, sempat bersekolah di sebuah sekolah swasta Islam kemudian melanjutkan sisa pendidikan saya di sekolah negeri, orang-orang di sekitar saya secara suku, ras, maupun kepercayaan selalu cenderung homogen, di mana saya selalu menjadi bagian dari mayoritas. Datang ke Jepang kondisi itu berbalik dan saya bukan lagi mayoritas di antara teman-teman Indonesia yang datang bersama saya.

 

Setelah keberagaman, kehidupan dan pendidikan di Jepang menyadarkan saya dengan jelas tentang keterbatasan. Melewati pendidikan di Indonesia dengan hasil yang secara kasar selalu dengan flying colors, saya akhirnya dihajar dengan gagal mata kuliah dan tidak sedikit nilai pas-pasan, hasil dari kolaborasi manis antara kurangnya persiapan, kurangnya pemahaman bahasa, dan kesulitan yang lebih tinggi secara keseluruhan. Keterbatasan saya juga semakin terasa ketika mendengar dan melihat pencapaian seluruh teman-teman yang berada di sekitar saya. Pencapaian-pencapaian luar biasa yang menggambarkan dengan begitu jelas rasanya menjadi seekor ikan kecil di kolam yang besar.

 

Reaksi saya pertama kali tentu saja kecewa. Tetapi lebih dari itu, hal-hal seperti ini memaksa saya untuk mengatur kadar idealisme berpikir dan tidak malu untuk lebih realistis; untuk berkata dengan keras pada diri sendiri bahwa ada hal-hal tertentu yang memang tidak mungkin untuk diraih, paling tidak untuk saat ini. Orang-orang selalu berkata kalau dengan usaha keras apapun bisa dicapai, tetapi orang-orang selalu lupa untuk mengatakan kalau menerima keterbatasan diri dan settle dengan target yang lebih rendah namun realistis bukanlah hal yang buruk. Lagipula settle bukan berarti melupakan mimpi dan masih ada waktu panjang setelah ini untuk mengejar mimpi itu. Saya juga sadar bahwa orang-orang di sekitar bukanlah objek untuk dibanding-bandingkan, orang-orang di sekitar adalah penopang, pendorong, pemacu diri sendiri untuk terus bekerja lebih keras dan menjaga optimisme.

 

Namun, dari seluruh hal yang saya rasakan selama sekolah di Jepang, hal luar biasa yang mungkin sering tidak disadari banyak orang adalah betapa berharganya diberikan jarak dari keramaian orang-orang dengan cara berpikir yang serupa. Menurut saya, menjadi terlalu nyaman dengan keserupaan melahirkan imunitas terhadap perbedaan. Contoh sederhananya, sejak lahir saya dikelilingi dengan orang-orang punya pandangan negatif dengan orang-orang berkulit hitam dan ternyata hal itu menjadikan saya sendiri tanpa sadar membuat jarak ketika pertama kali bertemu dengan seorang yang berkulit hitam.

 

Untuk itu saya begitu bersyukur atas hampir lima tahun ini, saat saya selalu dikelilingi bukan hanya keberagaman identitas, tetapi juga cara berpikir, baik itu di antara sesama mahasiswa Indonesia maupun orang-orang Jepang dan negara lain yang saya temui di sini. Keberadaan cara berpikir yang beragam dari orang-orang cerdas yang berada di sekitar saya memberikan saya kesempatan untuk pertama kalinya dalam hidup saya untuk secara sadar mempelajari cara berpikir dan nilai-nilai yang tertanam dari hasil didikan dan lingkungan saya selama ini, yang seluruhnya bisa dibilang tidak bisa saya pilih secara sukarela.

 

Menurut saya juga, berada di dalam lingkungan yang selalu dipenuhi dengan suara-suara yang satu kunci mencegah seseorang untuk bertanya dan berpikir kritis. Dalam zona yang nyaman di mana opini semua orang sesuai dan hidup lancar tenteram tanpa bunyi-bunyi tidak selaras, untuk apa seseorang menghabiskan tenaga dan mempertaruhkan hidup nyamannya dengan repot-repot berpikir kritis? Datang ke Jepang dan ditempatkan pada situasi yang sebaliknya memberikan saya keleluasaan untuk melihat balik dan berpikir kritis mengenai berbagai hal.

 

Kemudian berkat terpisah dari homogenitas, ada juga hal-hal sepele yang saya sadari seperti bisa menemukan selera musik, selera film dan sebagainya, menemukan aestetik sendiri kalau kata kerennya.

 

Saya sangat bersyukur dengan lima tahun ini, saya tidak tahu bagaimana bagi yang lain, tetapi bagi saya pribadi, kesempatan menyadari dan mempelajari diri sendiri adalah sebuah hal berharga yang bahkan mungkin tidak akan dialami sekelompok orang.

PPI Tokodai